IHSG Jatuh 1,48% ke 6.405: Pasar Sedang Takut atau Justru Menciptakan Peluang?

2026-08-26
IHSG melemah di tengah tekanan pasar saham

IHSG kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 95,98 poin atau 1,48% ke level 6.405,69. Tekanan terjadi hampir di seluruh pasar: sebanyak 599 saham ditutup melemah, hanya 136 saham menguat, sementara 228 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp17,9 triliun dengan volume perdagangan sekitar 39,7 miliar saham.

Yang membuat koreksi kali ini menarik bukan hanya besarnya penurunan IHSG, tetapi luasnya tekanan yang terjadi. Seluruh sektor IDX-IC berakhir di zona merah. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 4%, disusul sektor energi dan properti yang masing-masing turun lebih dari 2%. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa investor sedang melakukan pengurangan risiko secara cukup luas, bukan sekadar menjual satu atau dua kelompok saham tertentu.

IHSG Sempat Menguat, Lalu Berbalik Jatuh

Pergerakan intraday hari ini juga memberikan gambaran mengenai perubahan sentimen investor. IHSG sempat dibuka menguat di level 6.507,14 pada awal perdagangan. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan indeks kemudian berbalik ke zona negatif hingga akhirnya ditutup di 6.405,69.

Perubahan arah seperti ini penting diperhatikan karena menunjukkan bahwa tekanan jual menjadi semakin dominan sepanjang sesi perdagangan. Investor yang awalnya masih berani membeli ketika pasar dibuka justru berhadapan dengan tekanan jual yang lebih besar pada perjalanan sesi berikutnya.

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan indeks tidak cukup dibaca hanya dari angka penutupan. Investor juga perlu melihat breadth pasar, volume transaksi, sektor yang paling terpukul, serta saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi sumber tekanan.

599 Saham Merah: Ini Bukan Sekadar Koreksi Beberapa Saham

Salah satu angka yang paling penting dari perdagangan hari ini adalah jumlah saham yang melemah. Dari saham yang diperdagangkan, 599 saham berada di zona merah, sedangkan hanya 136 saham yang menguat.

Artinya, tekanan pasar terjadi secara luas. Ketika hanya beberapa saham besar yang turun, IHSG memang dapat ikut terkoreksi karena pengaruh kapitalisasi pasar. Namun ketika ratusan saham ikut melemah, investor perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi sentimen pasar secara keseluruhan.

Indeks-indeks utama juga ikut terkoreksi. LQ45 turun 1,46%, IDX30 turun 1,28%, JII turun 1,66%, sementara sejumlah indeks lainnya juga mengalami tekanan. Seluruh sektor IDX-IC pun ditutup melemah.

Dengan kata lain, hari ini bukan hari ketika investor hanya menjauhi satu sektor. Investor sedang mengurangi risiko di berbagai bagian pasar.

Saham Grup Prajogo Pangestu Ikut Tertekan

Salah satu kelompok saham yang menjadi perhatian adalah saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu.

$CUAN turun 6,67% ke Rp770. Sementara itu, $TPIA melemah 6,03% ke Rp1.870, $BRPT terkoreksi 5,91% ke Rp1.750, dan $PTRO turun 5,17% ke Rp4.860.

Penurunan serempak pada saham-saham tersebut menjadi perhatian karena kelompok ini selama beberapa waktu terakhir menjadi salah satu bagian pasar yang sangat aktif diperhatikan investor. Ketika saham-saham yang ramai diperdagangkan mengalami koreksi bersamaan, sentimen negatif dapat semakin cepat menyebar ke saham lain.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat: saham yang turun paling dalam belum tentu menjadi saham yang paling menarik untuk dibeli. Harga yang turun 5% atau 10% tidak otomatis berarti saham tersebut sudah murah.

Investor tetap perlu kembali ke pertanyaan yang lebih penting: apakah laba perusahaan masih bertumbuh, bagaimana valuasinya dibandingkan fundamental, bagaimana kondisi neracanya, dan apakah prospek bisnisnya masih sama seperti sebelum harga turun?

Mengapa Pasar Bisa Jatuh Ketika Bursa Asia Justru Menguat?

Menariknya, tekanan IHSG hari ini terjadi ketika sejumlah bursa utama Asia justru bergerak positif. Nikkei menguat 0,61%, Shanghai Composite naik 0,59%, Hang Seng bertambah 0,56%, dan Kospi menguat 0,97%.

Artinya, tekanan pada pasar Indonesia tidak bisa semata-mata dijelaskan oleh sentimen regional. Investor juga mencermati faktor domestik dan risiko yang spesifik terhadap Indonesia.

Pasar saat ini berada dalam kondisi di mana sentimen dapat berubah dengan cepat. Ketika investor mulai meningkatkan risk premium, saham-saham dengan volatilitas tinggi biasanya menjadi yang pertama terkena dampak.

Karena itu, koreksi seperti hari ini sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa semua saham akan terus turun. Sebaliknya, investor perlu melihat apakah tekanan ini bersifat sementara atau mulai mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap fundamental ekonomi dan perusahaan.

Jadi, Apakah Ini Saatnya Membeli?

Ini adalah pertanyaan yang kemungkinan besar muncul setelah melihat IHSG jatuh hampir 1,5%.

Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Pasar yang turun memang dapat menciptakan peluang karena harga saham menjadi lebih rendah. Tetapi harga yang lebih rendah tidak selalu berarti valuasi yang lebih murah. Jika laba perusahaan turun lebih cepat daripada harga sahamnya, saham tersebut justru bisa tetap mahal meskipun sudah terkoreksi.

Sebaliknya, perusahaan dengan fundamental yang tetap kuat tetapi ikut terkena tekanan pasar dapat menjadi menarik untuk dipantau. Di sinilah investor perlu memisahkan antara harga dan nilai.

Misalnya, jika sebuah perusahaan menghasilkan laba Rp1 triliun dan pasar memberinya valuasi tertentu, penurunan harga saham tidak otomatis mengubah kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Tetapi jika penurunan harga terjadi karena prospek laba perusahaan memang memburuk, maka valuasinya perlu dihitung ulang.

Koreksi pasar adalah kesempatan untuk melakukan screening ulang, bukan alasan untuk membeli secara membabi buta.

Apa yang Perlu Dipantau Investor Selanjutnya?

Setelah IHSG kembali berada di sekitar level 6.400, investor sebaiknya tidak hanya bertanya apakah indeks akan naik atau turun besok. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: saham mana yang masih memiliki fundamental kuat, valuasi masuk akal, dan margin of safety yang cukup?

Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya antara lain:

  • Apakah IHSG mampu bertahan di sekitar level 6.400.
  • Apakah tekanan jual mulai mereda atau justru semakin meluas.
  • Apakah investor asing kembali melakukan akumulasi.
  • Sektor mana yang paling cepat mengalami rebound ketika sentimen membaik.
  • Apakah saham-saham dengan fundamental kuat ikut turun hanya karena sentimen pasar.
  • Apakah penurunan harga sudah membuat valuasi beberapa saham menjadi lebih menarik.

Investor juga sebaiknya tidak terburu-buru menentukan bahwa sebuah saham sudah “murah” hanya karena harganya turun. Gunakan data laba, EPS, PER, dividend yield, atau metode valuasi lain untuk melihat apakah harga saat ini memang memberikan margin of safety.

Jangan Hanya Melihat Saham yang Turun

Menariknya, meskipun 599 saham melemah, tetap ada saham yang mampu mencatat kenaikan besar. $TMPO naik 34,76% ke Rp252, sementara $NICE dan $SAFE masing-masing menguat 25%.

Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi market-wide sell-off, tetap ada saham yang memiliki katalis atau momentum tersendiri.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya menggunakan IHSG sebagai patokan tunggal. Pasar yang merah secara keseluruhan masih dapat menyimpan peluang di level saham individual.

Inilah mengapa investor perlu memiliki proses screening sendiri. Jangan biarkan warna merah IHSG membuat seluruh saham terlihat sama.

Koreksi Bukan Berarti Harus Panik

Perdagangan hari ini memberikan satu pengingat penting: pasar saham tidak bergerak dalam garis lurus.

Ada periode ketika valuasi naik terlalu cepat dan pasar melakukan normalisasi. Ada pula periode ketika sentimen memburuk sementara fundamental perusahaan sebenarnya tidak berubah secara signifikan.

Perbedaan antara kedua kondisi tersebut sangat penting bagi investor.

Jika penurunan hanya disebabkan oleh sentimen, investor dengan horizon jangka panjang mungkin justru mendapatkan kesempatan untuk membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang lebih menarik. Tetapi jika penurunan merupakan refleksi dari memburuknya fundamental, memaksakan diri membeli hanya karena harga sudah turun dapat menjadi jebakan.

Jadi sebelum mengambil keputusan, jangan tanyakan “berapa persen saham ini turun?” Tanyakan “berapa nilai wajarnya sekarang?”

Gunakan Koreksi untuk Menguji Portofolio

Market sell-off juga merupakan waktu yang baik untuk mengevaluasi portofolio.

Jika IHSG turun 1,48% tetapi sebuah saham dalam portofolio turun 8%, investor perlu bertanya mengapa. Apakah saham tersebut memang memiliki volatilitas lebih tinggi? Apakah ada berita fundamental? Atau apakah posisi tersebut sejak awal terlalu besar?

Kondisi pasar seperti ini dapat menjadi stress test sederhana bagi strategi investasi. Jika investor merasa panik setiap kali pasar turun beberapa persen, mungkin masalahnya bukan hanya pada pasar, tetapi juga pada ukuran posisi dan tingkat risiko portofolio.

Pasar yang merah memberi kesempatan untuk menguji apakah strategi investasi kita benar-benar kuat atau hanya bekerja ketika pasar sedang naik.

Kesimpulan

IHSG jatuh 1,48% ke 6.405,69 pada perdagangan 26 Agustus 2026, dengan 599 saham melemah dan seluruh sektor berada di zona merah. Saham-saham seperti $CUAN, $TPIA, $BRPT, dan $PTRO juga mengalami tekanan cukup dalam.

Namun, koreksi sebesar ini tidak otomatis berarti investor harus keluar dari pasar. Justru ketika volatilitas meningkat, disiplin dalam memilih saham menjadi semakin penting.

Jangan hanya mencari saham yang turun. Cari saham yang menjadi lebih menarik setelah turun.

Mulai dengan melihat fundamental, menghitung valuasi, dan menentukan batas harga yang masuk akal sebelum mengambil keputusan.

Kalau kamu punya saham yang sedang turun hari ini, coba hitung lagi valuasinya sebelum panik menjual. Gunakan pendekatan berbasis angka untuk melihat apakah harga sekarang benar-benar murah atau hanya terlihat murah.

Menurut kamu, IHSG di 6.400 adalah peluang atau justru sinyal untuk wait and see? Bagikan pandanganmu dan bandingkan dengan investor lain di HakaHaki.

Sumber: Katadata, ANTARA, IDXChannel