Kalkulator Average Saham
Hitung harga rata-rata saham setelah melakukan pembelian tambahan (averaging down / averaging up).
Belum Ada Hasil
Masukkan data posisi dan pembelian, lalu klik Hitung Average.
Apa Itu Average Saham?
Average saham adalah harga rata-rata pembelian dari seluruh saham yang Anda miliki pada satu emiten. Nilai ini berubah ketika Anda menambah posisi di harga yang berbeda dari average sebelumnya.
Perhitungan average bersifat tertimbang berdasarkan jumlah saham, bukan sekadar rata-rata dari dua harga. Artinya, semakin banyak lot yang dibeli pada suatu harga, semakin besar pengaruh harga itu terhadap rata-rata akhir.
Kalau pembelian tambahan dilakukan pada harga di bawah rata-rata lama, average Anda turun. Situasi ini biasa disebut average down. Kalau pembelian tambahan dilakukan di atas rata-rata lama, average Anda naik, dan disebut average up. Keduanya hanya menggambarkan arah pergerakan average, bukan anjuran untuk membeli atau menjual.
Cara Menghitung Harga Rata-rata Saham
Kalkulator menghitung average sebagai rata-rata tertimbang, yaitu total modal dibagi total jumlah saham.
Karena di Bursa Efek Indonesia 1 lot sama dengan 100 lembar, jumlah saham dihitung dari lot dikali 100. Jadi:
saham tambahan = lot tambahan × 100
total saham = saham lama + saham tambahan
Modal setiap bagian dihitung dari jumlah saham dikali harganya, lalu dijumlahkan menjadi total modal. Average baru adalah total modal dibagi total saham.
Kenapa tidak cukup merata-ratakan dua harga saja? Karena kalau jumlah lotnya berbeda, rata-rata sederhana (harga1 + harga2) ÷ 2 akan salah. Misalnya Anda membeli banyak lot di satu harga dan sedikit lot di harga lain. Harga dengan lot lebih banyak seharusnya berbobot lebih besar. Rata-rata tertimbang memperhitungkan bobot ini, sehingga hasilnya mencerminkan modal Anda yang sebenarnya.
Contoh Average Down
Misalkan Anda memegang 100 lot dengan harga rata-rata Rp1.000, lalu menambah 50 lot di harga Rp800. (Angka ini hanya ilustrasi, bukan data pasar nyata.)
- Saham lama: 100 × 100 = 10.000 lembar
- Saham tambahan: 50 × 100 = 5.000 lembar
- Modal lama: 10.000 × Rp1.000 = Rp10.000.000
- Modal tambahan: 5.000 × Rp800 = Rp4.000.000
- Total saham: 10.000 + 5.000 = 15.000 lembar
- Total modal: Rp10.000.000 + Rp4.000.000 = Rp14.000.000
- Average baru: Rp14.000.000 ÷ 15.000 ≈ Rp933
Karena pembelian tambahan (Rp800) berada di bawah rata-rata lama (Rp1.000), average turun dari Rp1.000 menjadi sekitar Rp933. Inilah contoh average down.
Average Down vs Average Up
Perbedaannya terletak pada harga pembelian tambahan dibandingkan harga rata-rata yang sudah Anda miliki.
Average down terjadi ketika pembelian tambahan dilakukan di bawah harga rata-rata lama. Hasilnya, harga rata-rata turun, seperti pada contoh di atas (dari Rp1.000 menjadi sekitar Rp933).
Average up terjadi ketika pembelian tambahan dilakukan di atas harga rata-rata lama. Hasilnya, harga rata-rata naik. Misalnya menambah lot di harga Rp1.200 saat rata-rata lama Rp1.000 akan menggeser rata-rata ke angka di antara keduanya, tertimbang oleh jumlah lot.
Kalkulator ini hanya menghitung perubahan average. Tidak ada pilihan yang dianggap lebih baik karena hasilnya bergantung pada harga dan jumlah saham yang Anda masukkan.
Catatan: Floating Profit/Loss
Kalau Anda memasukkan kode saham, kalkulator juga menampilkan floating profit/loss, yaitu selisih antara nilai posisi Anda pada harga pasar terkini dan total modal Anda. Nilai ini dihitung dari (total saham × harga pasar saat ini) dikurangi total modal, lalu dinyatakan dalam rupiah dan persentase terhadap modal. Nilai ini belum terealisasi dan akan berubah mengikuti harga pasar.