IHSG Masih Tertekan Pagi Ini: 6 Berita yang Wajib Dipantau Investor 27 Agustus 2026

IHSG kembali melemah pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Setelah turun 1,48% pada perdagangan sebelumnya, indeks dibuka di level 6.390,35 atau turun 0,24%. Investor masih mencermati kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia, pergerakan rupiah, hingga kondisi pasar saham Amerika Serikat.
Dengan IHSG kembali berada di sekitar level 6.400, perhatian investor hari ini tertuju pada apakah tekanan jual akan berlanjut atau mulai mereda. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan sepanjang perdagangan.
IHSG kembali berada di bawah 6.400
IHSG ditutup di level 6.405,69 pada perdagangan Rabu setelah turun 1,48%. Tekanan terjadi cukup luas dengan 599 saham melemah dan seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah.
Pada Kamis pagi, tekanan kembali terlihat sejak pembukaan. IHSG turun 15,34 poin ke 6.390,35. Level 6.400 menjadi area yang menarik untuk diperhatikan karena pergerakan indeks di sekitar level tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan tekanan jual berikutnya.
Meski demikian, investor asing masih mencatatkan net buy sekitar Rp1,37 triliun di seluruh pasar pada perdagangan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa tekanan IHSG tidak serta-merta berarti seluruh investor sedang keluar dari pasar.
BI mempertahankan suku bunga 5,75%
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%.
Keputusan ini menjadi perhatian pasar karena suku bunga memengaruhi berbagai bagian ekonomi, termasuk pertumbuhan kredit, biaya pendanaan perusahaan, daya beli masyarakat, dan valuasi saham.
Sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang perlu diperhatikan. Perubahan kondisi suku bunga dapat memengaruhi pertumbuhan kredit dan margin perusahaan, sehingga investor perlu melihat dampaknya terhadap kinerja masing-masing bank, bukan hanya melihat keputusan BI secara umum.
Rupiah masih menjadi perhatian
Rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Pergerakan mata uang menjadi penting karena dampaknya berbeda untuk setiap perusahaan.
Emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar AS dapat memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah. Sebaliknya, perusahaan dengan kebutuhan impor atau kewajiban dalam valuta asing dapat menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.
Karena itu, ketika rupiah melemah, investor sebaiknya tidak hanya melihatnya sebagai berita makro. Perhatikan juga perusahaan mana yang memiliki eksposur terhadap dolar AS dan bagaimana pengaruhnya terhadap laba.
Sentimen global belum sepenuhnya mendukung
Pasar saham Amerika Serikat juga ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Dow Jones turun 0,21%, Nasdaq Composite turun 0,08%, sementara S&P 500 relatif stabil.
Investor global masih memperhatikan data inflasi Amerika Serikat dan kemungkinan arah kebijakan Federal Reserve. Inflasi yang masih tinggi dapat membuat ekspektasi penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi dolar AS, obligasi, dan arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu, sentimen global tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perdagangan IHSG hari ini.
Nvidia menjadi perhatian pasar
Investor global juga mencermati kinerja Nvidia. Perusahaan tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa kuat permintaan terhadap chip dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Pergerakan Nvidia dan saham teknologi besar lainnya dapat memengaruhi sentimen pasar global, terutama terhadap saham yang berkaitan dengan teknologi dan AI.
Dampaknya terhadap saham Indonesia memang tidak selalu langsung. Namun perubahan sentimen di pasar global dapat memengaruhi appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.
Aksi demonstrasi menjadi risiko domestik
Investor juga perlu memperhatikan agenda demonstrasi yang berlangsung di sekitar Gedung DPR/MPR pada Kamis. Fokus pasar terutama berada pada bagaimana aksi tersebut berlangsung dan apakah menimbulkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi maupun sentimen investor.
Jika berlangsung kondusif, dampaknya terhadap pasar kemungkinan relatif terbatas. Namun eskalasi situasi dapat membuat investor kembali bersikap defensif dan meningkatkan volatilitas pasar.
Berita emiten tetap menarik diperhatikan
Di tengah tekanan IHSG, perkembangan masing-masing perusahaan tetap berjalan. Salah satunya adalah $ARKO yang melakukan ekspansi di sektor energi terbarukan melalui akuisisi perusahaan dengan proyek PLTS di Batam dan Bintan. Transaksi tersebut menambah kapasitas energi terbarukan sebesar 21,3 MWp.
Perkembangan korporasi seperti ini menunjukkan bahwa kondisi indeks tidak selalu menggambarkan kondisi setiap perusahaan. Ketika IHSG melemah, tetap ada saham yang memiliki katalis dan cerita bisnis tersendiri.
Apa yang perlu diperhatikan investor?
Dengan berbagai sentimen yang datang bersamaan, investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena IHSG dibuka merah.
Perhatikan beberapa hal sederhana sepanjang perdagangan hari ini:
- Apakah IHSG mampu kembali bertahan di atas 6.400.
- Apakah tekanan jual semakin luas atau mulai berkurang.
- Bagaimana pergerakan saham perbankan dan saham berkapitalisasi besar.
- Apakah investor asing kembali melakukan akumulasi.
- Bagaimana pergerakan rupiah terhadap dolar AS.
- Sektor mana yang mulai menunjukkan kekuatan ketika pasar kembali stabil.
Yang tidak kalah penting, jangan menyamakan saham yang turun dengan saham yang menjadi murah.
Penurunan harga belum tentu membuat valuasi menjadi menarik. Jika fundamental perusahaan memburuk, saham yang sudah turun cukup dalam masih bisa memiliki risiko besar. Sebaliknya, perusahaan dengan fundamental yang tetap kuat dapat menjadi lebih menarik ketika harganya ikut terkoreksi akibat sentimen pasar.
Koreksi bisa menjadi kesempatan untuk screening
Pasar yang sedang melemah dapat digunakan untuk mengevaluasi kembali portofolio dan watchlist.
Tanyakan tiga hal sebelum mengambil keputusan: apakah fundamental perusahaan masih sama, apakah valuasinya sekarang lebih menarik, dan apakah potensi return masih sebanding dengan risikonya.
Jika jawabannya masih masuk akal, koreksi dapat menjadi kesempatan untuk melakukan pembelian secara bertahap. Namun jika penurunan harga disebabkan oleh perubahan fundamental, jangan menganggap harga yang lebih rendah otomatis berarti murah.
Fokusnya bukan mencari saham yang paling banyak turun, tetapi mencari saham yang menjadi lebih menarik setelah turun.
Kesimpulan
IHSG kembali melemah ke sekitar 6.390 pada pembukaan Kamis setelah sebelumnya turun 1,48%. Investor masih menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pasar, mulai dari suku bunga BI 5,75%, pergerakan rupiah, sentimen Wall Street, perkembangan Nvidia, hingga kondisi domestik.
Namun, tekanan pada indeks tidak berarti seluruh saham memiliki kondisi yang sama. Investor tetap perlu melihat fundamental, valuasi, katalis, dan risiko masing-masing perusahaan.
Kalau portofolio kamu sedang merah pagi ini, jangan langsung bertanya apakah harus jual. Coba lihat dulu apakah harga saham tersebut masih masuk akal dibandingkan nilai perusahaannya.
Menurut kamu, IHSG di sekitar 6.400 sudah menjadi peluang atau masih lebih baik wait and see?
Sumber: Katadata, Bloomberg Technoz, ANTARA, Reuters