IHSG Hari Ini 28 Agustus 2026 Dibuka Menguat ke 6.535, Rupiah Masih Tertekan

2026-08-28
IHSG hari ini menguat di tengah pergerakan pasar saham dan ekonomi Indonesia

IHSG Hari Ini Dibuka Menguat

IHSG hari ini, Jumat 28 Agustus 2026, dibuka menguat 0,21% atau 13,97 poin ke level 6.535,72. Penguatan tersebut melanjutkan rebound IHSG pada perdagangan Kamis (27/8), ketika indeks ditutup naik 1,81% ke level 6.521,75.

Pada perdagangan sebelumnya, penguatan IHSG berlangsung cukup luas. Sebanyak 553 saham naik, 96 saham turun, dan 138 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp13,69 triliun dengan volume perdagangan 36,76 miliar saham. Bloomberg Technoz

Di awal perdagangan Jumat, sektor energi menjadi salah satu sektor yang mencatat penguatan paling tinggi. Sejumlah saham seperti PTBA, ITMG, dan BBRI juga masuk dalam jajaran saham yang menguat pada awal sesi perdagangan. Kontan

Apa yang Mendorong IHSG Hari Ini?

Salah satu sentimen eksternal datang dari Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan Kamis. S&P 500 naik 0,72%, Nasdaq Composite melonjak 1,57%, dan Dow Jones menguat 0,20%. Kinerja Nvidia yang lebih kuat dari ekspektasi ikut mendorong optimisme terhadap saham teknologi dan tema kecerdasan buatan.

Sentimen positif tersebut ikut memberi ruang bagi pasar saham Asia untuk bergerak lebih baik. Namun, investor tetap menghadapi risiko dari inflasi Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed masih dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kiwoom Sekuritas via Pasardana

Di dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan setelah rebound tajam sehari sebelumnya. Investor perlu melihat apakah penguatan hari ini mendapat dukungan transaksi dan berlanjut hingga akhir sesi.

Pergerakan IHSG, sektor, dan saham individual dapat dipantau melalui Market HakaHaki.

Rupiah Masih Menjadi Risiko bagi Pasar

Meski IHSG bergerak positif, Rupiah masih berada dalam tekanan. Rupiah spot ditutup di sekitar Rp17.744 per dolar AS pada Kamis, melemah 0,11% dibandingkan hari sebelumnya.

Tekanan terhadap Rupiah antara lain datang dari penguatan dolar AS dan meningkatnya kebutuhan valuta asing korporasi menjelang akhir bulan. Untuk perdagangan Jumat, Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas sambil menunggu perkembangan data ekonomi global dan pergerakan yield obligasi AS. Kontan

Kondisi nilai tukar perlu diperhatikan investor saham karena pelemahan Rupiah dapat meningkatkan beban perusahaan yang memiliki utang atau kebutuhan impor dalam dolar AS, meskipun dampaknya berbeda pada setiap emiten.

Bagaimana Kondisi Ekonomi Indonesia?

Dari sisi ekonomi domestik, Bank Indonesia masih melihat pertumbuhan Indonesia tetap terjaga. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026, setelah tumbuh 5,61% pada kuartal sebelumnya.

Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Pertumbuhan tersebut didukung antara lain oleh stimulus fiskal, konsumsi pemerintah, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik. Bank Indonesia

Inflasi Indonesia Masih Dalam Sasaran

Inflasi juga masih menjadi salah satu faktor yang relatif mendukung stabilitas ekonomi. Inflasi IHK pada Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan, turun dari 3,34% pada bulan sebelumnya. Inflasi inti berada di level 2,76% secara tahunan.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5% plus atau minus 1%. Inflasi yang tetap terkendali dapat membantu menjaga daya beli dan memberikan ruang bagi kebijakan moneter untuk menyeimbangkan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia

BI-Rate Tetap 5,75%

Bank Indonesia pada RDG 18-19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate di 5,75%. Deposit Facility dipertahankan pada 4,75%, sedangkan Lending Facility berada di 6,50%.

Keputusan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas Rupiah, menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Bagi pasar saham, arah suku bunga tetap menjadi salah satu faktor penting karena memengaruhi biaya pendanaan, nilai tukar, arus modal, dan valuasi aset. Bank Indonesia

Investor dapat membaca perkembangan ekonomi dan pasar terbaru melalui Berita Pasar HakaHaki.

Apakah IHSG Bisa Melanjutkan Penguatan?

Interpretasi: peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan masih terbuka setelah rebound 1,81% pada Kamis dan pembukaan positif pada Jumat. Namun, pergerakan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa IHSG telah kembali ke tren naik yang lebih kuat.

Investor perlu memperhatikan kemampuan indeks untuk bertahan di atas level 6.500 serta melihat apakah penguatan didukung oleh aktivitas transaksi yang sehat. Jika tekanan jual kembali meningkat, IHSG tetap dapat mengalami konsolidasi meskipun sebelumnya mencatat kenaikan tajam.

Di sisi lain, sentimen global yang masih cukup positif, terutama dari sektor teknologi Amerika Serikat, dapat menjadi faktor pendukung bagi pasar saham Asia. Investor tetap perlu mewaspadai perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed karena perubahan tersebut dapat memengaruhi arus modal global.

Saham Apa yang Perlu Diperhatikan?

Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham energi dan sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi perhatian pasar. Namun, kenaikan pada awal sesi tidak otomatis berarti saham tersebut akan menjadi pemimpin hingga penutupan.

Investor sebaiknya melihat fundamental emiten, volume transaksi, berita terbaru, dan katalis yang mendasari pergerakan harga sebelum mengambil keputusan. Jangan hanya mengejar saham yang sedang mengalami kenaikan paling cepat pada awal perdagangan.

Untuk mengikuti perkembangan saham individual secara lebih lengkap, investor dapat mengakses HakaHaki.

Kesimpulan

IHSG hari ini, Jumat 28 Agustus 2026, dibuka menguat 0,21% ke level 6.535,72 setelah sehari sebelumnya melonjak 1,81%. Sentimen positif dari Wall Street dan penguatan sejumlah sektor domestik memberikan dukungan pada pasar saham Indonesia.

Namun, Rupiah masih berada dalam tekanan di sekitar Rp17.744 per dolar AS sehingga nilai tukar tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Dari sisi fundamental ekonomi, pertumbuhan Indonesia masih terjaga di 5,29% pada kuartal II 2026, inflasi Juli berada di 2,88%, dan BI-Rate bertahan di 5,75%.

Dengan kondisi tersebut, pasar masih memiliki sejumlah katalis positif, tetapi investor perlu tetap disiplin melihat perkembangan IHSG, Rupiah, suku bunga, dan sentimen global sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber : Bloomberg Technoz, Pasardana, Kontan, Bank Indonesia