IHSG Kemarin 15 September 2026 Turun 1,13% ke 6.461, Investor Asing Net Sell

2026-09-16
IHSG kemarin melemah lima hari berturut-turut di tengah tekanan pasar saham

IHSG kemarin, Selasa 15 September 2026, ditutup melemah 1,13% atau 73,54 poin ke level 6.461,15. Penurunan tersebut memperpanjang koreksi IHSG menjadi lima hari perdagangan berturut-turut. Sepanjang sesi, indeks bergerak dari level tertinggi 6.549 hingga ditutup tepat di level terendah harian 6.461.

Tekanan pasar juga terlihat dari luasnya penurunan saham. Sebanyak 332 saham melemah, 330 saham menguat, dan 301 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp12,71 triliun dengan volume 25,62 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,76 juta transaksi. IPOT News

Bagi investor yang ingin memantau pergerakan IHSG dan saham secara langsung, data pasar dapat diikuti melalui Market HakaHaki.

IHSG Sudah Turun Lima Hari Berturut-turut

Koreksi pada Selasa menjadi hari kelima berturut-turut bagi IHSG. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa momentum positif yang sempat terbentuk pada awal September telah mengalami pembalikan dalam beberapa sesi terakhir.

Penurunan lima hari juga membuat investor perlu memperhatikan apakah koreksi mulai memasuki fase berlebihan atau justru masih memiliki ruang untuk berlanjut. Namun, arah selanjutnya tetap bergantung pada arus dana, kondisi global, dan respons investor pada level harga berikutnya.

Delapan Sektor Berada di Zona Merah

Pelemahan IHSG kemarin tidak terjadi pada satu sektor saja. Dari 11 sektor IDX-IC, delapan sektor ditutup turun. Sektor industri menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,56%, diikuti sektor keuangan 1,36% dan energi 1,27%.

Sektor lain yang melemah adalah properti sebesar 1,03%, transportasi dan logistik 0,89%, barang konsumen primer 0,69%, barang baku 0,73%, dan teknologi 0,37%.

Sementara itu, tiga sektor masih mampu menguat. Sektor kesehatan naik 0,24%, infrastruktur 0,17%, dan barang konsumen non-primer 0,05%. Katadata

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar relatif luas, meskipun beberapa sektor masih mampu bertahan di zona hijau.

Investor Asing Kembali Net Sell

Investor asing mencatat net sell sekitar Rp349,28 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Selasa. Tekanan jual asing menjadi salah satu faktor yang sejalan dengan pelemahan IHSG pada hari tersebut. Kontan

Berdasarkan data transaksi, saham yang paling banyak dibeli asing antara lain ANTM, BUMI, BRMS, TLKM, dan AMMN. Sebaliknya, BMRI menjadi saham dengan outflow asing terbesar, diikuti BBRI, BBNI, CPIN, dan ASII. IPOT News

Pola ini cukup menarik karena asing tetap melakukan akumulasi pada beberapa saham besar, tetapi secara keseluruhan masih mencatat penjualan bersih. Artinya, arus dana asing belum sepenuhnya memberikan dukungan terhadap indeks.

Perkembangan arus dana dan berita emiten dapat diikuti melalui Berita Pasar HakaHaki.

Saham Top Gainer dan Top Loser

Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham tetap mencatat kenaikan signifikan. DEFI menjadi top gainer dengan kenaikan 34,95% ke Rp139, disusul CCSI yang naik 24,86% ke Rp442 dan VOKS yang menguat 24,62% ke Rp324.

Di sisi lain, SAPX menjadi top loser setelah turun 14,85% ke Rp430. SMRA melemah 13,25% ke Rp288, sedangkan RIGS turun 10,07% ke Rp625. Pasardana

Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar tidak seragam. Ketika indeks turun, tetap ada saham tertentu yang bergerak berlawanan karena faktor perusahaan, sentimen khusus, atau aktivitas perdagangan yang berbeda.

BUMI Menjadi Salah Satu Saham Paling Aktif

BUMI menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan pada Selasa. Saham tersebut berada di jajaran teratas berdasarkan nilai dan volume transaksi, dengan nilai perdagangan sekitar Rp456 miliar dan volume sekitar 2 miliar saham.

BBRI dan BMRI juga termasuk dalam saham dengan nilai transaksi besar. Tingginya aktivitas pada saham-saham tersebut menunjukkan bahwa investor tetap aktif melakukan perpindahan posisi meskipun IHSG sedang berada dalam tren koreksi.

Bursa Asia Ikut Melemah

Pelemahan IHSG kemarin juga terjadi ketika sebagian besar bursa Asia berada di zona merah. Nikkei turun tipis 0,01%, Hang Seng melemah 1%, Shanghai turun 0,54%, dan Strait Times terkoreksi 1,39%. Katadata

Salah satu perhatian pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik serta kenaikan harga minyak. Tertundanya pembicaraan diplomatik terkait Selat Hormuz dan gangguan pasokan energi menjadi faktor yang diperhatikan investor global. ANTARA

Kondisi tersebut penting bagi Indonesia karena perubahan harga energi, dolar AS, dan sentimen risk-off global dapat memengaruhi arus modal menuju pasar negara berkembang.

Rupiah Ikut Melemah

Rupiah juga bergerak melemah pada perdagangan Selasa. Rupiah spot ditutup di sekitar Rp17.694 per dolar AS, turun 0,14% dari posisi sebelumnya di Rp17.669. Kontan

Pelemahan Rupiah dan IHSG yang terjadi bersamaan menunjukkan tekanan terhadap aset domestik. Salah satu faktor eksternal yang diperhatikan pasar adalah kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat di tengah masih tingginya inflasi dan harga energi.

Apa yang Menjadi Perhatian Investor?

Perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada IHSG, tetapi juga pada keputusan suku bunga The Fed yang akan menjadi salah satu katalis utama pasar global. Pasar memperkirakan perubahan kebijakan suku bunga dapat berdampak pada dolar AS, yield obligasi, dan arus modal ke pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, investor juga perlu memperhatikan perkembangan kebijakan fiskal, Rupiah, harga komoditas, serta kinerja saham berkapitalisasi besar.

Karena IHSG telah mengalami koreksi lima sesi berturut-turut, volume transaksi dan kemampuan indeks bertahan di area psikologis 6.500 juga menjadi indikator yang layak diperhatikan pada perdagangan berikutnya.

Apakah IHSG Bisa Rebound?

Interpretasi: secara teknikal, peluang rebound selalu terbuka setelah indeks mengalami penurunan selama beberapa sesi. Namun, belum ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa koreksi lima hari telah berakhir.

Investor perlu melihat apakah tekanan jual mulai berkurang, apakah saham-saham big caps kembali mendapat akumulasi, dan apakah arus dana asing berubah menjadi positif. Tanpa konfirmasi tersebut, kenaikan satu sesi masih dapat menjadi bagian dari volatilitas normal dalam tren yang sedang terkoreksi.

Sejumlah analis pada perdagangan 16 September memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area support sekitar 6.390, sementara kisaran pergerakan yang diproyeksikan berbeda antar-sekuritas. Proyeksi tersebut merupakan pandangan analis dan bukan kepastian arah indeks. Investortrust

Kesimpulan

IHSG kemarin, Selasa 15 September 2026, ditutup turun 1,13% ke level 6.461,15 dan memperpanjang koreksi menjadi lima hari perdagangan berturut-turut. Pelemahan berlangsung cukup luas dengan delapan sektor berada di zona merah.

Investor asing mencatat net sell Rp349,28 miliar, sementara Rupiah juga melemah ke sekitar Rp17.694 per dolar AS. Di luar negeri, pelemahan bursa Asia dan meningkatnya risiko geopolitik serta harga energi turut memberikan tekanan terhadap sentimen pasar.

Fokus berikutnya adalah apakah IHSG mampu mempertahankan area 6.500, apakah arus asing mulai berbalik positif, dan bagaimana pasar merespons keputusan The Fed. Investor sebaiknya membedakan data pasar dengan proyeksi analis dan tetap melihat kondisi masing-masing saham sebelum mengambil keputusan.

Untuk memantau harga saham, pergerakan IHSG, dan berita terbaru pasar Indonesia, kunjungi HakaHaki.

Sumber : IPOT News, Katadata, Kontan, ANTARA, Pasardana